Megapolitan.co – Cuitan lama Presiden Prabowo Subianto soal pelemahan rupiah kembali ramai diperbincangkan di media sosial setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh level Rp17.000 hingga Rp17.500 pada 2026.

Unggahan Prabowo pada 2013 yang menyebut pelemahan rupiah sebagai tanda ekonomi bangsa tidak dikelola dengan baik kembali viral dan memicu berbagai perdebatan publik. Kondisi ekonomi saat ini pun kerap dibandingkan dengan pernyataan tersebut.

Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai akibat salah urus pemerintah semata. Tekanan global disebut menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan mata uang di banyak negara berkembang.

Dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas mata uang emerging markets mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda.

Faktor seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, perang di Timur Tengah, hingga perlambatan ekonomi dunia membuat investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Situasi tersebut menyebabkan arus modal keluar atau capital outflow dari sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bank Indonesia menyebut tekanan terhadap rupiah masih relatif sejalan dengan mayoritas mata uang emerging markets lainnya.

Bahkan, dalam beberapa periode, pelemahan rupiah dinilai lebih terkendali dibanding sejumlah negara berkembang lain yang juga terdampak lonjakan harga energi serta gejolak pasar global.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup kuat.

Beberapa indikator ekonomi nasional masih menunjukkan tren positif, mulai dari inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, hingga surplus neraca perdagangan yang berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, pemerintah juga terus menjalankan berbagai program strategis seperti hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, dan percepatan swasembada pangan guna menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga optimistis Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global karena memiliki sumber daya alam besar serta ketahanan pangan yang terus diperkuat.

Program swasembada pangan bahkan disebut ditargetkan tercapai lebih cepat untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional di tengah situasi global yang penuh tekanan.

Sementara itu, Bank Indonesia bersama pemerintah terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga nilai tukar rupiah.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan pihaknya tidak segan melakukan intervensi besar di pasar valuta asing demi menjaga stabilitas rupiah.

Menurut Perry, intervensi dilakukan secara “all out” baik di pasar domestik maupun offshore di sejumlah pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.

Selain intervensi pasar valas, pemerintah dan BI juga memperkuat cadangan devisa, memperketat pengaturan devisa hasil ekspor, serta menjaga koordinasi fiskal dan moneter agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.

Pengamat menilai pelemahan rupiah memang perlu menjadi perhatian serius. Namun, publik juga diminta melihat kondisi ekonomi secara objektif dan komprehensif karena tekanan serupa sedang dihadapi hampir seluruh negara berkembang.

Karena itu, kondisi rupiah saat ini dinilai tidak otomatis mencerminkan runtuhnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan bagian dari dinamika ekonomi global yang juga dialami banyak negara lain.

Dengan fundamental ekonomi yang masih relatif stabil serta intervensi aktif pemerintah dan Bank Indonesia, Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan cukup kuat menghadapi tekanan ekonomi global 2026.

 

megapolitanco
Editor