Megapolitan.co – Langkah Presiden Prabowo Subianto yang aktif melakukan kunjungan luar negeri selama 1,5 tahun awal pemerintahannya, menjadi bahan perdebatan publik.

Hingga April 2026, Presiden tercatat telah melakukan sekitar 49 lawatan ke berbagai negara, dan memunculkan kritik sekaligus dukungan dari berbagai kalangan.

Di media sosial, muncul istilah “Prabowo World Tour 2024–2026” yang menggambarkan tingginya intensitas perjalanan internasional Presiden.

Sebagian pihak mempertanyakan urgensi kunjungan tersebut, terutama ketika kondisi ekonomi domestik masih dibayangi pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan tekanan fiskal nasional.

Namun pemerintah menilai lawatan tersebut merupakan bagian dari strategi diplomasi ekonomi untuk menjaga posisi Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sejumlah kunjungan Presiden diklaim berhasil membuka peluang investasi besar dan memperluas kerja sama strategis lintas sektor.

Investasi Rp575 Triliun dari Asia Timur

Salah satu hasil terbesar diperoleh saat kunjungan Presiden ke Korea Selatan. Dalam forum ekonomi di Seoul, pemerintah berhasil mengamankan komitmen investasi senilai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp173 triliun.

Investasi itu mencakup sektor energi hijau, carbon capture and storage (CCS), baterai kendaraan listrik, industri baja, kecerdasan buatan, hingga pengembangan infrastruktur dan properti.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kerja sama tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia masih dipandang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain Korea Selatan, kunjungan Presiden ke Jepang juga menghasilkan komitmen investasi dan kerja sama bisnis senilai sekitar Rp401 triliun. Total investasi dari dua negara Asia Timur itu disebut mencapai sekitar Rp575 triliun.

Eropa hingga Maritim Jadi Target Kerja Sama

Lawatan Presiden ke kawasan Eropa juga disebut membawa hasil signifikan. Dalam kunjungan ke Inggris, Swiss, dan Prancis, pemerintah memperoleh komitmen investasi maritim sekitar Rp90 triliun.

Kerja sama tersebut meliputi pengembangan sektor maritim nasional hingga pembangunan 1.582 kapal ikan yang diproyeksikan membuka ratusan ribu lapangan pekerjaan baru.

Selain investasi, pemerintah juga mendorong kerja sama di bidang hilirisasi industri, energi terbarukan, ketahanan pangan, pendidikan, teknologi digital, dan penguatan rantai pasok global.

Rupiah Melemah, Pemerintah Sebut Faktor Global

Di tengah kritik terhadap tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden, kondisi rupiah yang melemah terhadap dolar AS juga ikut menjadi sorotan publik.

Namun pemerintah bersama Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi faktor global, termasuk penguatan dolar AS, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, konflik geopolitik Timur Tengah, hingga arus keluar modal dari negara berkembang.

Pemerintah pun menilai diplomasi ekonomi internasional tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui peningkatan investasi, perluasan ekspor, dan penguatan kerja sama perdagangan strategis.

Di tengah situasi global yang belum stabil, lawatan luar negeri Presiden disebut menjadi bagian dari upaya menjaga daya saing Indonesia agar tidak tertinggal dalam perebutan investasi dan pengaruh ekonomi dunia.

 

megapolitanco
Editor