Megapolitan.co – Kondisi keuangan PT Pelita Air Service (PT PAS), anak usaha PT Pertamina (Persero), kembali menuai kritik tajam.

Maskapai milik negara itu tercatat menanggung kerugian signifikan pada tahun buku 2023, sementara kebijakan internalnya justru dinilai tak mencerminkan situasi perusahaan yang sedang tertekan.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, mengungkapkan PT PAS membukukan kerugian sebesar USD 20.107.160 sepanjang 2023.

Besarnya angka tersebut, kata dia, tidak sebanding dengan laba yang diperoleh perusahaan pada 2024 yang hanya mencapai USD 5.914.075.

“Tahun 2023 PT PAS rugi besar, mencapai USD 20.107.160. Kerugian ini tidak bisa ditutupi oleh laba perusahaan yang hanya sekitar USD 5,9 juta,” ujar Uchok Sky dalam keterangannya, dikutip Selasa (13/1/2026).

PT Pelita Air Service saat ini mengoperasikan 12 unit pesawat dan hampir sepenuhnya dimiliki oleh PT Pertamina.

Berdasarkan struktur kepemilikan saham, Pertamina menguasai 828.744 lembar saham atau 99,997 persen, sementara PT Pertamina Pedeve Indonesia hanya memiliki 26 lembar saham atau sekitar 0,003 persen.

Dengan komposisi kepemilikan tersebut, CBA menilai kinerja PT PAS tidak bisa dilepaskan dari peran dan tanggung jawab Pertamina sebagai induk usaha.

Terlebih sejak 4 November 2024, kursi Direktur Utama PT Pertamina dijabat Simon Aloysius Mantiri menggantikan Nicke Widyawati.

Kondisi anak usaha yang terus merugi dinilai mencerminkan lemahnya fungsi pengawasan dan evaluasi. Sorotan paling keras diarahkan pada kebijakan remunerasi manajemen PT PAS.

Ronnie Sahala
Editor