Megapolitan.co – Berulangnya banjir bandang di Aceh Tengah membuka ironi di balik kejayaan kopi Gayo. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan United Nations Development Programme (UNDP).
Menilai, tekanan ekonomi berbasis komoditas kopi telah mendorong perambahan kawasan hutan lindung, yang pada akhirnya memperbesar risiko bencana hidrometeorologi di wilayah dataran tinggi tersebut.
Penilaian itu menggeser narasi bencana dari sekadar persoalan pengungsian dan respons darurat menjadi persoalan tata kelola sumber daya alam.
PBB menekankan, tanpa perbaikan tata guna lahan, upaya penanganan pascabencana hanya akan bersifat sementara.
Dalam kajian lingkungan awal 2025, PBB mengaitkan degradasi hutan Aceh Tengah dengan perubahan iklim yang memengaruhi produktivitas kopi.
Data Stasiun Meteorologi Sutan Iskandar Muda menunjukkan tren kenaikan suhu sekitar 0,3 derajat Celsius per dekade selama tiga dekade terakhir.
Kenaikan suhu tersebut membuat sebagian kebun kopi di ketinggian ideal mengalami penurunan hasil.
Kondisi ini mendorong petani membuka lahan baru di wilayah yang lebih tinggi, termasuk kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai hutan lindung dan daerah tangkapan air.
Tekanan terhadap hutan semakin nyata dalam temuan UNDP bersama Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Proyek FOLUR periode 2023–2024.
Studi tersebut mencatat sekitar 56 persen kebun kopi Gayo berada di dalam kawasan hutan, termasuk hutan lindung.






Tinggalkan Balasan