Megapolitan.co – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian baru-baru ini menerbitkan Surat Edaran Nomor 300.1.4/e.1/BAK tanggal 3 September 2025, yang meminta kepala daerah mengaktifkan kembali pos ronda atau Siskamling.
Arahan ini diperkuat dengan Surat Edaran Ditjen Polpum Nomor 000.10.3/e-748/Polpum tanggal 2 September 2025, yang menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat, forum lokal, hingga deteksi dini potensi gangguan keamanan.
Menanggapi hal ini, akademisi Hukum Tata Negara, Tinton Ditisrama, menilai instruksi tersebut tepat untuk menghidupkan kembali tradisi gotong royong yang lama terabaikan.
“Kebijakan ini sebenarnya bukan barang baru. Dulu, ronda adalah bagian dari kultur sosial kita. Sayangnya, tradisi itu memudar, terutama di kota besar seperti Bekasi. Padahal manfaatnya besar, bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga memperkuat solidaritas warga,” ujarnya, Senin (8/9/2025).
Menurutnya, pelaksanaan ronda menghadapi tantangan. Banyak pos ronda di Bekasi yang terbengkalai, penerangan jalan masih minim, bahkan ada warga yang enggan ikut ronda karena kesibukan kerja.
Bahkan tidak sedikit pula yang merasa keamanan cukup diserahkan kepada satpam kompleks. Jika hanya dipaksakan, ronda bisa berhenti sebatas formalitas.
“Namun, dengan dukungan yang tepat, ronda bisa kembali hidup dan relevan. Pemerintah daerah bisa membantu memperbaiki fasilitas pos ronda, menyediakan alat komunikasi sederhana, bahkan memanfaatkan teknologi seperti CCTV lingkungan atau grup WhatsApp warga,” paparnya.
Lanjut Tinton, ronda pun bisa dikemas lebih ramah, seperti jadwal bergiliran yang adil, diselipkan obrolan atau ngopi bersama, sehingga terasa ringan dan menyenangkan.
Ia menekankan saatnya masyarakat ikut ambil bagian. Kota sebesar Bekasi tidak bisa hanya mengandalkan aparat untuk menjaga keamanan. Dengan ronda, warga bisa saling mengenal, saling menjaga, dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman serta nyaman bagi keluarga.
“Mari jadikan ronda bukan sekadar kewajiban, melainkan gaya hidup gotong royong orang Bekasi: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Dengan begitu, pos ronda bukan hanya hidup kembali, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan warga kota yang dinamis ini,” tandasnya.





Tinggalkan Balasan