Megapolitan.co – Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Jakarta dipusatkan di kawasan Monumen Nasional (Monas) dan dihadiri massa dalam jumlah besar.
Aksi tersebut menjadi panggung bagi ratusan ribu buruh untuk menyampaikan tuntutan mereka secara terbuka dengan situasi yang relatif tertib.
Selain di Monas, pergerakan massa juga terlihat di sekitar Gedung DPR/MPR RI yang diikuti sejumlah kelompok.
Aktivitas di titik ini sempat memunculkan dinamika dan beragam persepsi di ruang publik, termasuk isu dugaan penangkapan dan intimidasi terhadap aktivis.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menegaskan bahwa langkah pengamanan yang dilakukan merupakan bagian dari upaya preventif guna menjaga situasi tetap kondusif.
“Pengamanan dilakukan secara terukur dan profesional untuk memastikan kegiatan masyarakat berjalan aman. Kami juga mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap tindakan di lapangan,” ujar Budi, Sabtu, 2 Mei 2026.
Menurutnya, aparat sempat mendeteksi adanya kelompok yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan. Sejumlah barang yang diamankan juga disebut memiliki potensi digunakan dalam aksi yang berujung kericuhan.
Atas dasar itu, polisi melakukan langkah pencegahan dengan mengamankan beberapa orang untuk dimintai keterangan. Ia menegaskan, tindakan tersebut tidak menyasar peserta aksi buruh secara umum.
”Benar, 101 orang yang semalam dimintai keterangan sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Mereka dijemput keluarga dan dalam pendampingan LBH Jakarta, mereka bukan merupakan bagian dari serikat buruh yang menyampaikan aspirasi ” ucap Budi.
Dalam prosesnya, kepolisian memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai prosedur, termasuk perlindungan terhadap hak-hak individu yang diamankan.
Setelah melalui pemeriksaan dan klarifikasi, seluruh 101 orang tersebut dipulangkan karena tidak ditemukan keterlibatan dalam pelanggaran hukum. Pemulangan juga dilakukan dengan melibatkan pihak keluarga.
Secara umum, rangkaian pengamanan May Day 2026 di Jakarta dinilai berjalan kondusif. Pendekatan persuasif dan deteksi dini disebut menjadi kunci agar penyampaian aspirasi tetap berlangsung tanpa mengganggu ketertiban umum.
Momentum ini sekaligus memperlihatkan bahwa ruang ekspresi publik tetap terbuka, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas keamanan di ibu kota.






Tinggalkan Balasan