Megapolitan.co – Kebijakan transportasi Pemerintah Kota Bekasi menuai protes. Ratusan sopir angkot turun ke jalan menolak pengoperasian layanan Trans Bekasi Keren (Trans Beken).
Aksi berlangsung di kawasan Plaza Patriot Candrabhaga dan berdampak pada kemacetan lalu lintas setelah puluhan angkot berhenti di badan jalan.
Dalam unjuk rasa tersebut, para sopir menyuarakan penolakan terbuka terhadap Trans Beken yang dinilai hadir tanpa dialog dan merusak ekosistem transportasi yang sudah ada.
Spanduk-spanduk bernada keras dibentangkan, di antaranya bertuliskan, “Kami menolak adanya Trans Bekasi Beken, kami lelah dengan janji-janji” serta “Tidak ada koordinasi dengan Organda. Dishub Kota Bekasi arogan. Tolak Kapitalis dalam dunia Angkot”.
Penolakan itu bukan tanpa alasan. para sopir angkot menyebut kehadiran Trans Beken sebagai pukulan telak bagi angkot konvensional.
Mereka menilai pemerintah menciptakan persaingan yang timpang dengan menghadirkan bus gratis di jalur yang sama.
Inay (31), sopir angkot K-25. Ia menegaskan bahwa para sopir tidak anti terhadap program pemerintah, namun menuntut keadilan dalam persaingan.
“Sebenarnya kita tidak langsung nolak program pemerintah. Bis Kita bagus, nyaman, rapi. Tapi gimana sebagai supir? Karena sebelum ada dia, penghasilan kami cukup buat ngajari anak, kebutuhan rumah,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Inay, penurunan pendapatan sudah terasa sejak layanan Bis Kita beroperasi dua tahun lalu. Kehadiran Trans Beken yang digratiskan membuat kondisi kian terpuruk.
“Pendapatan tadinya 100 persen, sekarang paling 20 persen. Habis setoran, bensin, paling buat makan. Tidak bisa lagi ngumpulin uang atau ajak keluarga jalan seminggu sekali,” keluhnya.
Ia menilai dampak Trans Beken jauh lebih mematikan dibanding transportasi daring karena langsung mengambil penumpang di jalur utama angkot.
“Dengan online kita masih stabil, narik di mal, di BCP. Sekarang tidak ada lagi sejak ada Bis Kita,” ucap Inay.
Hal senada disampaikan Sitorus (53), sopir angkot K-11. Ia menyebut keberadaan Trans Beken hanya akan menambah sulit pendapatan para sopir angkot.
“Saya K-11, yang sudah dimasuki BTS (Trans Beken), dan dia mengatakan gratis sampai dua tahun. Dalam satu trayek ada dua institusi. Yang satu berbayar, yang satu tidak berbayar. Bagaimana pemerintah ini untuk rakyatnya?” ujarnya.
Pria yang telah 25 tahun mengais rezeki di balik kemudi angkot itu mengungkapkan, beban setoran harian sebesar Rp120.000 kini kerap tak terkejar. Sisa pendapatan pun nyaris tak cukup untuk kebutuhan dasar keluarga.
“Kadang-kadang setoran tidak dapat. Bagaimana kita mau kasih anak istri makan di rumah?” keluh Sitompul.
Ia pun mempertanyakan arah kebijakan pemerintah yang dinilainya abai terhadap sopir angkot sebagai kelompok rentan ekonomi.
Menurutnya, negara justru hadir dengan kebijakan yang meminggirkan mereka yang masih mengandalkan tenaga sendiri untuk bertahan hidup.
“Konstitusi bilang orang miskin, melarat, jompo dipelihara negara. Kami ini siapa? Kami tidak minta-minta, masih ada modal tenaga dan kekuatan. Tapi kok kenapa main hajar begitu saja,” katanya.
Ia menegaskan, tidak pernah ada komunikasi, dialog, ataupun mediasi sebelum Trans Beken dioperasikan. Padahal, menurutnya, pemerintah seharusnya menawarkan jalan keluar yang berkeadilan, bukan langsung memasukkan moda baru ke trayek lama.
“Kalau ada koordinasi, hal seperti ini tidak akan terjadi. Coba kumpul pengusaha dan supir, bagaimana solusinya. Jangan tiba-tiba masukkan trayek lain. Yang lama ini mau dikemanakan?” tandasnya.
Aksi ini menjadi sinyal keras dari sopir angkot yang merasa ditinggalkan oleh kebijakan modernisasi transportasi. Tanpa dialog dan solusi konkret, konflik antara transportasi rakyat dan program pemerintah berpotensi terus membesar.






Tinggalkan Balasan