Setelah jalur terbuka, BWS Sumatera I langsung membawa logistik berupa air mineral, mie instan, dan kebutuhan pokok. Pada hari yang sama, Polri mengirim bantuan lewat helikopter ke Desa Paya Bedi di bawah koordinasi Asisten Utama Kapolri Komjen Fadil Imran. Terbukanya akses juga memungkinkan Gubernur Aceh Muzakir Manaf turun langsung meninjau kondisi di lapangan.

Klaim Influencer Dipatahkan Kronologi Resmi

Di tengah upaya pemerintah, seorang influencer membuat klaim di Instagram bahwa “Aceh Tamiang belum menerima bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah, dan saya orang pertama yang membawa bantuan“.

Klaim itu dipastikan tidak sesuai dengan fakta lapangan. BNPB menegaskan telah mengirim bantuan lebih dulu melalui airdrop, dengan dukungan OMC berulang untuk membuka jendela cuaca aman.

Selain itu, Pemkab Aceh Tamiang sudah menyalurkan bantuan pada 1–2 Desember, jauh sebelum unggahan tersebut muncul.

Bantuan dari PUPR, BWS, Polri, serta distribusi jalur laut sudah berlangsung sejak hari-hari awal.

Situasi bukan sekadar banjir, melainkan banjir bandang dan longsor berat yang menjebol akses darat sehingga distribusi tidak bisa dilakukan secara normal.

Kronologi ini memperlihatkan bahwa narasi yang dibangun influencer tersebut tidak selaras dengan operasi teknis yang dilakukan tim penanggulangan bencana.

Kesimpulan: Bantuan Pertama Bukan dari Influencer

Merujuk data resmi BNPB, Pemkab Aceh Tamiang, BWS Sumatera I, Polri, dan Kominfo, Airdrop BNPB diyakini adalah bantuan pertama yang masuk ke Aceh Tamiang.

Pemkab Aceh Tamiang menjadi pihak paling awal yang menyalurkan bantuan lewat jalur sungai.

Klaim, bahwa influencer adalah pemberi bantuan pertama disebut tidak sesuai fakta. Narasi yang meniadakan kerja aparat dan pemerintah ini tidak hanya keliru, tetapi juga menutupi upaya teknis yang menyelamatkan ribuan warga pada fase kritis awal bencana.

Ronnie Sahala
Editor