Megapolitan.co – Sosok Jimmy Yang mendadak jadi pembicaraan publik setelah puluhan baliho bergambar dirinya bermunculan di sudut-sudut strategis Kota Pangkalpinang.

Mengusung citra profesional dan pluralis, Jimmy Yang, seorang figur berdarah Tionghoa, menyatakan niatnya untuk ikut mendorong perubahan di ibukota Provinsi Bangka Belitung.

Dalam pernyataannya pada Jumat, 21 Juni 2025, Jimmy mengusung jargon inklusivitas dan transformasi. Ia bicara soal ekonomi non-timah, birokrasi bersih, serta penguatan peran pemuda dan perempuan.

“Pangkalpinang harus keluar dari zona nyaman. Kita butuh tenaga dan pikiran baru, profesional, dan berorientasi masa depan,” kata Jimmy, Selasa (24/6/2025).

Selain itu, ia juga menyuarakan penguatan sektor jasa, pelabuhan, maritim, dan pariwisata, namun belum menjelaskan bagaimana ia akan merealisasikan hal itu dalam lanskap birokrasi yang selama ini dikenal lamban dan penuh kepentingan.

“Saya ingin Pangkalpinang dikenal sebagai kota investasi berskala nasional dan internasional. Potensi kita luar biasa, tapi belum tergarap maksimal,” ujarnya.

Menariknya, Jimmy tak menutupi identitasnya sebagai bagian dari etnis Tionghoa. Ia menegaskan kesetiaan pada nilai kebersamaan, bahkan mengutip semboyan lokal “Fan Ngin Thong Ngin Jit Jong”.

“Pangkalpinang adalah rumah kita bersama. Semua etnis harus jadi pelaku pembangunan, tanpa sekat,” tegasnya.

Tapi di tengah suhu politik yang mudah tersulut oleh isu identitas, keberanian ini bisa jadi taruhan politik yang besar, tergantung seberapa luas penerimaan masyarakat terhadap pluralisme yang ia gaungkan.

Dari sisi program, janji-janji Jimmy menyentuh isu-isu populis, seperti internet gratis, pusat kreativitas anak muda, pendidikan tinggi unggulan, dukungan untuk UMKM perempuan, hingga pelatihan kerja.

“Perempuan adalah pilar keluarga dan ekonomi. Jika mereka kuat, kota ini akan maju,” paparnya.

Di sisi lain, kontribusinya terhadap pembangunan masjid dan TPA di Cikampek disebut sebagai bukti komitmen pluralisme. Jimmy juga menolak praktik jual beli jabatan dan menjanjikan reformasi birokrasi berbasis meritokrasi dan pelayanan publik.

“Birokrasi harus melayani, bukan dilayani. Ini menyasar ASN, guru, dan aparat sipil,” tandasnya.

Kehadiran Jimmy tentu memberi warna baru dalam dinamika politik Pangkalpinang yang selama ini didominasi figur-figur lama. Namun publik berhak mencermati lebih dalam, apakah ini sekadar kemasan baru dari pola yang lama, atau benar-benar langkah awal menuju perubahan nyata?

megapolitanco
Editor