POROSBEKASI.COM – Penguatan ekonomi masyarakat pesisir di Sorong, Papua Barat Daya, tidak hanya bergantung pada kemampuan nelayan menangkap ikan.

Nilai ekonomi hasil perikanan juga ditentukan oleh bagaimana hasil tangkapan disimpan, diolah dan dipasarkan.

Kebutuhan tersebut membuat keberadaan fasilitas pendukung menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi nelayan. Dermaga, pabrik es, cold storage, tempat pengisian BBM hingga fasilitas usaha dapat saling terhubung dalam satu rantai kegiatan perikanan.

Konsep tersebut salah satunya dikembangkan melalui Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kota Sorong.

Di Kota Sorong, pembangunan KNMP salah satunya berpusat di Kelurahan Rufei, Distrik Sorong Barat. Pemerintah Kota Sorong memulai pembangunan kawasan tersebut pada 2026 dengan menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung kegiatan perikanan.

Menurut Pemerintah Kota Sorong melalui ANTARA, kawasan KNMP di Rufei dibangun di atas lahan sekitar 3.400 meter persegi.

Fasilitas yang disiapkan antara lain dermaga, cold storage, pabrik es, stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBUN), fasilitas UMKM hingga bengkel. Pembangunan tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Wali Kota Sorong Septinus Lobat mengatakan pembangunan KNMP diharapkan dapat memperkuat sektor perikanan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir.

“Program ini diharapkan mampu mentransformasi kawasan pesisir menjadi lebih modern, higienis, tertata dan produktif,” kata Septinus, sebagaimana diberitakan ANTARA.

Peletakan batu pertama KNMP di Rufei sebelumnya dilakukan pada April 2026.

Pemerintah Kota Sorong menyebut program tersebut merupakan sinergi dengan KKP untuk membangun kawasan nelayan di wilayah pesisir.

Pengembangan KNMP juga tidak hanya berlangsung di Rufei

Pemerintah Kota Sorong pada Juli 2026 menyatakan pembangunan KNMP telah berjalan di sembilan kelurahan, yakni Rufei, Doom Barat, Tanjung Kasuari, Remu Selatan, Doom Timur, Raam, Soop, Malawei dan Saoka.

Sebagian besar lokasi disebut telah memasuki tahap pelaksanaan pekerjaan, sementara Saoka masih menghadapi persoalan terkait penolakan sebagian masyarakat dan tokoh adat.

Program tersebut juga mendapat perhatian dari unsur masyarakat adat di Papua Barat Daya. Kepala Suku Besar Maya Papua Barat Daya, Mhatius Samagita, pada 24 September 2026 menyatakan dukungan terhadap program tersebut.

Menurut Mhatius, kehidupan masyarakat Suku Maya memiliki keterkaitan erat dengan laut dan sumber daya pesisir.

“Masyarakat Suku Maya adalah masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada laut. Karena itu, kami mendukung penuh hadirnya Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Mhatius.

Ia berharap fasilitas KNMP dapat membantu kegiatan nelayan, mulai dari penangkapan ikan hingga penyimpanan, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

Mhatius juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat adat serta perhatian terhadap adat, budaya dan keberlanjutan sumber daya laut dalam pengembangan program tersebut.

Meski pembangunan KNMP terus berjalan, manfaat ekonomi program tersebut perlu dilihat dari penggunaan fasilitas di lapangan.

Frans Worabay, misalnya, mengetahui keberadaan KNMP di wilayah Feri. Namun, berdasarkan keterangannya, ia belum merasakan langsung manfaat fasilitas KNMP tersebut.

Kondisi itu tidak serta-merta menunjukkan program tidak memberikan manfaat. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa ukuran keberhasilan KNMP bukan hanya seberapa banyak fasilitas dibangun, tetapi juga apakah fasilitas tersebut telah selesai, beroperasi, mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan nelayan.

Kebutuhan nelayan juga saling berkaitan. Dermaga tanpa pengelolaan yang baik belum cukup. Pabrik es dan cold storage membutuhkan listrik, pengelolaan, pemeliharaan serta sistem distribusi hasil tangkapan.

Begitu pula akses BBM memerlukan mekanisme penyaluran yang tepat sasaran dan mudah dijangkau.

Karena itu, KNMP di Sorong lebih tepat dilihat sebagai pembangunan ekosistem perikanan, bukan satu fasilitas yang secara otomatis menyelesaikan seluruh persoalan nelayan.

Pendataan nelayan, kelembagaan pengelola, akses pasar, kepastian BBM, fasilitas rantai dingin dan keterhubungan dengan aktivitas ekonomi menjadi bagian yang ikut menentukan manfaat program.

Pada akhirnya, keberhasilan KNMP akan sangat bergantung pada bagaimana fasilitas yang dibangun dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat pesisir.

Bagi nelayan seperti Frans, kebutuhan tersebut bermula dari persoalan yang sangat praktis: kapan aman melaut, apakah BBM tersedia dan apakah fasilitas yang dibangun benar-benar dapat digunakan.

Dari kebutuhan sehari-hari itulah manfaat KNMP di Sorong nantinya dapat diukur secara lebih konkret.

 

megapolitanco
Editor