Megapolitan.co – Pemerintah memastikan penanganan bencana di Aceh Tamiang, sejak awal Desember 2025, melibatkan kerja cepat lintas lembaga.

Saat akses darat lumpuh total dan perjalanan Medan–Aceh Tamiang yang biasanya 3–4 jam terhenti, pemerintah mengerahkan dukungan udara dan mitigasi cuaca melalui BPBD, BNPB, BMKG, hingga Kementerian PUPR.

Respons terkoordinasi ini diakui menjadi kunci agar bantuan tetap dapat menjangkau wilayah terdampak di tengah cuaca ekstrem dan situasi darurat, dimana para korban sangat membutuhkan bantuan.

Airdrop BNPB Jadi Bantuan Pertama yang Masuk

BNPB tercatat sebagai pihak pertama yang berhasil mengirim bantuan ke Aceh Tamiang. Puluhan sorti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) digelar untuk menekan hujan ekstrem dan membuka jalur udara bagi helikopter. Airdrop menjadi distribusi pertama sebelum jalur darat maupun laut pulih.

Begitu cuaca memungkinkan, BNPB menjatuhkan logistik darurat melalui airdrop di sekitar Lapangan Babo dan Perupuk, Bandar Pusaka.

Bantuan yang dberikan mencakup 100 paket makanan siap saji, 100 hygiene kit, 50 paket sembako, 100 selimut, 100 matras dan 25 peralatan kebersihan.

Bantuan via Sungai pada 1–2 Desember

Di luar distribusi udara BNPB, Pemkab Aceh Tamiang menegaskan telah bergerak lebih dulu lewat jalur sungai. Pada 1–2 Desember 2025, perahu dikerahkan menuju delapan desa terisolir di Kecamatan Sekerak.

Pemerintah daerah juga telah menyalurkan dana darurat sebelum 2 Desember, untuk sedikitnya 1.000 warga Desa Sekumur yang kehilangan rumah.

Sementara bantuan dari jalur laut turut tiba di Pelabuhan Kuala Langsa pada 2 Desember 2025, memperkuat suplai logistik ke kawasan terdampak.

Akses Darat Pulih Setelah Pembersihan Besar-Besaran PUPR

Pada 2 Desember, BNPB mengonfirmasi, bahwa jalur Medan–Aceh Tamiang sudah mulai dapat dilalui kendaraan roda empat setelah tim PUPR menyingkirkan material longsor setinggi hingga 4 meter. Akses penuh baru tercapai sehari kemudian.

Ronnie Sahala
Editor