Dalam rangkaian agenda di New York, PAM JAYA juga melakukan penjajakan awal dengan sejumlah pemimpin bisnis mengenai kemungkinan pengembangan skema pembiayaan alternatif.

Skema tersebut menjadi salah satu opsi untuk memperluas sumber pendanaan yang dapat digunakan dalam pengembangan layanan air minum perpipaan di Jakarta.

Tidak hanya infrastruktur perpipaan, PAM JAYA turut melihat peluang pengembangan sektor water cooling untuk kebutuhan pendinginan pusat data atau data center.

Penjajakan tersebut menjadi bagian dari upaya mengeksplorasi peran PAM JAYA dalam mendukung pertumbuhan industri berbasis teknologi dan infrastruktur digital yang membutuhkan sistem pendinginan secara berkelanjutan.

Transformasi Digital untuk Perkuat Pengelolaan

Pengembangan PAM JAYA juga dilakukan melalui transformasi digital. Pemanfaatan teknologi diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan perusahaan sekaligus mendukung operasional layanan air minum.

Beberapa teknologi yang dikembangkan meliputi smart water meter, integrated billing system, dan enterprise resource planning (ERP).

Implementasi berbagai sistem tersebut ditujukan untuk meningkatkan akurasi data, efisiensi operasional, serta mendukung pengambilan keputusan melalui sistem yang lebih terintegrasi.

Dalam pengelolaan layanan air minum di kota besar, transformasi digital menjadi salah satu aspek yang penting. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memantau distribusi, mengelola pelanggan, hingga mengoptimalkan penggunaan sumber daya.

Arief Nasrudin menegaskan bahwa air memiliki posisi strategis yang tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan dasar. Menurutnya, air juga berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi.

“Air bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi merupakan fondasi bagi kehidupan, kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi. Ketika kita berbicara mengenai pembangunan masa depan, maka pembicaraan mengenai air harus ditempatkan di bagian paling fundamental,” ujar Arief.

megapolitanco
Editor