Megapolitan.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Warga mengeluhkan asap yang semakin pekat hingga mengganggu jarak pandang dan mempertanyakan efektivitas operasi modifikasi cuaca.

Sejumlah unggahan di media sosial memperlihatkan kondisi jalan yang tertutup asap. Warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kualitas udara yang dinilai memburuk.

“Salah satu pagi terburuk di Kota Palembang. Sampai kapan bapak-bapak para pemimpin yang terhormat paru-paru kami dipaksa jadi cerobong asap?” tulis akun @ggcempaka.

Dalam unggahannya, akun tersebut membagikan video yang menunjukkan jarak pandang terbatas akibat kabut asap. Sejumlah bangunan di kejauhan sulit terlihat, termasuk hotel dan apotek yang berada di sekitar lokasi perekaman.

“Lihat, enggak ada yang kelihatan. Jangankan hotel yang di ujung sana, apotek pun enggak kelihatan,” imbuhnya dalam video tersebut, dikutip Jumat (23/10/2026).

Akun itu juga membagikan tangkapan layar yang mencantumkan indeks kualitas udara Palembang pada pukul 06.00 WIB sebesar AQI+ 1.115 dengan kategori bahaya. Angka tersebut merupakan data yang dibagikan dalam unggahan dan belum diverifikasi secara independen.

Warga Pertanyakan Efektivitas Modifikasi Cuaca

Keluhan warga turut mengarah pada operasi modifikasi cuaca yang dilakukan untuk membantu mengatasi dampak karhutla. Mereka mempertanyakan hasil upaya penyemaian bahan tertentu di tengah kabut asap yang masih menyelimuti kota.

“Palembang nih, ini yang katanya berhasil modifikasi cuaca? Cuaca yang seperti apa? Udah enggak tahu lagi mau ngomong apa,” lanjutnya.

Keluhan serupa disampaikan akun Threads @helloitsjan yang menggambarkan kondisi asap semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

“Tolong kami! 3 bulan karhutla di Palembang masih terus berlangsung, asap makin hari makin parah, pandangan blur parah,” tulis akun tersebut.

BNPB Evaluasi Penyemaian Dry Ice

Di tengah keluhan masyarakat, operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan penyemaian dry ice telah berlangsung sejak Kamis, 15 Oktober 2026.

Hingga Senin, 19 Oktober 2026, tercatat 11 kali penyemaian dengan total 8,8 ton dry ice. Dalam operasi pada Senin tersebut, sebanyak 1,6 ton dry ice disemai melalui dua sortie penerbangan.

Selain itu, dilakukan satu sortie penyemaian natrium klorida (NaCl) sebanyak 800 kilogram.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan metode modifikasi cuaca menggunakan dry ice akan terus dievaluasi. Jika dinilai efektif, metode tersebut berpotensi diterapkan di wilayah lain yang terdampak.

Namun, keluhan warga Palembang pada 22 Oktober 2026 menunjukkan kabut asap masih menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat. Efektivitas operasi modifikasi cuaca terhadap kondisi di lapangan masih perlu dinilai berdasarkan hasil pemantauan dan data resmi.

Di tengah situasi tersebut, penanganan karhutla dan pemantauan kualitas udara menjadi penting untuk mengurangi risiko kesehatan serta gangguan aktivitas warga akibat asap.

Megapolitandotco
Editor