Megapolitan.co – Gelap pekat masih menggantung di langit Sumatera ketika hujan tak kunjung mereda sejak 24 November 2025.

Dari Aceh hingga Sumatera Barat, derasnya air bagai tidak mengenal lelah, meluapkan sungai, merobek bantaran, dan menenggelamkan 354 kecamatan tanpa ampun.

Di balik puing dan lumpur, angka pilu terus bertambah: 303 jiwa ditemukan meninggal, sementara 279 lainnya masih hilang, meninggalkan keluarga yang menunggu dalam kepanikan yang panjang.

Di tengah kepungan banjir bandang dan longsor, Presiden Prabowo Subianto langsung memerintahkan seluruh kekuatan negara untuk turun tanpa kompromi.

Kementerian, TNI-Polri, dan pemerintah daerah digerakkan serentak, memastikan evakuasi, logistik, layanan medis, hingga pemulihan jaringan komunikasi berlangsung tanpa henti.

Pesawat Hercules C-130, A400M, hingga armada darat-laut dikerahkan demi menembus wilayah yang terisolasi, mengirimkan perahu karet, tenda, genset, dan berbagai peralatan penyelamat nyawa.

Meski desakan publik agar bencana ini ditetapkan sebagai bencana nasional terus bergema, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa penetapan status tersebut bukan perkara yang mudah. Dalam sejarah, hanya tsunami Aceh 2004 dan pandemi Covid-19 yang memenuhi syarat berat itu.

Bahkan gempa besar seperti Palu, Lombok, hingga Cianjur tidak pernah dinaikkan statusnya. Ia menekankan bahwa status tidak pernah menghambat langkah pemerintah, karena seluruh upaya penyelamatan tetap bergerak maksimal sejak hari pertama.

Kadispenad Kolonel Inf Donny Pramono membantah kabar miring di media sosial terkait tuntutan status bencana nasional.

Ia menegaskan TNI AD sudah all out sejak laporan pertama masuk, memprioritaskan pembukaan akses vital seperti jalur Sibolga, Padang Sidempuan dan perbaikan jembatan yang menjadi nadi kehidupan masyarakat.

Di lapangan, prioritas Presiden Prabowo tidak hanya mengangkat korban dan memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga memastikan infrastruktur segera pulih agar denyut hidup masyarakat kembali berjalan. Dukungan personel, logistik, dan peralatan terus diperkuat setiap jamnya.

Meski belum menyandang status “bencana nasional”, langkah pemerintah menunjukkan satu hal: negara hadir sepenuhnya, bertarung melawan waktu demi menyelamatkan Sumatera yang tengah berada di titik terburuknya.

megapolitanco
Editor