Megapolitan.co – Pergantian Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dari Dian Siswarini kepada Nanang Hendarno berlangsung ketika perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan kinerja pada semester I 2026.

Nanang Hendarno ditetapkan sebagai Dirut Telkom melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pada 30 September 2026.

Di bawah kepemimpinan baru, kesinambungan kinerja menjadi salah satu tantangan utama yang harus dijaga di tengah agenda transformasi TelkomGroup.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai capaian keuangan perusahaan hingga semester pertama 2026 perlu menjadi perhatian Nanang Hendarno.

Menurutnya, perubahan kepemimpinan jangan sampai berdampak terhadap stabilitas operasional maupun tren pertumbuhan yang telah dicapai.

“Pendapatan Telkom masih menunjukkan kenaikan. Ini harus menjadi catatan bagi Dirut baru agar perubahan kepemimpinan tidak mengganggu kinerja perusahaan,” ujar Uchok dikutip, Rabu (7/10/2026).

Mengacu pada laporan resmi Telkom, pendapatan hingga Juni 2026 mencapai sekitar Rp75,8 triliun. Nilai tersebut naik kurang lebih Rp2,8 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di kisaran Rp73 triliun.

Tidak hanya pendapatan, EBITDA dan laba bersih normalisasi Telkom pada semester I 2026 juga mengalami pertumbuhan. Capaian tersebut menjadi modal bagi manajemen baru untuk melanjutkan agenda transformasi tanpa mengorbankan performa perusahaan.

Kinerja positif juga terlihat dari kontribusi Telkomsel terhadap TelkomGroup. Pada semester I 2026, Telkomsel membukukan pendapatan Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen secara tahunan (year-on-year).

Pertumbuhan Telkomsel terutama ditopang lini bisnis Digital Business Data yang mencatat pertumbuhan 11 persen secara tahunan. Capaian tersebut menjadi bagian dari kinerja positif TelkomGroup yang perlu dipertahankan oleh kepemimpinan baru.

Namun, di tengah kinerja operasional yang tumbuh, CBA menilai masih terdapat sejumlah aspek yang harus dievaluasi manajemen. Salah satunya berkaitan dengan pengelolaan anggaran perjalanan dinas Telkom.

Berdasarkan data CBA, anggaran perjalanan dinas Telkom pada 2026 mencapai sekitar Rp178 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan anggaran pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp343 miliar, dengan realisasi sekitar Rp151 miliar.

Meski mengalami penurunan, CBA tetap meminta anggaran tersebut ditekan secara ketat, terutama untuk perjalanan dinas luar negeri.

“Anggaran perjalanan dinas harus ditekan secara ketat. Porsinya sangat besar, terutama untuk perjalanan dinas luar negeri,” tegas Uchok.

Ia juga menilai kunjungan kerja ke luar negeri pada masa kepemimpinan sebelumnya perlu dievaluasi berdasarkan manfaat yang diberikan kepada perusahaan. Ia berpandangan, kegiatan tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap penguatan nilai Telkom.

Menurutnya, tekanan yang sempat terjadi pada harga saham Telkom lebih dipengaruhi kondisi global yang kurang kondusif dan pelemahan nilai tukar rupiah. Karena itu, tekanan terhadap saham dinilai bukan disebabkan kurangnya penjajakan investor di luar negeri.

“Gara-gara tekanan global ini, sudah tentu investor asing melepas sahamnya sehingga terjadi tekanan pasar yang kencang pada saham Telkom. Jadi, tidak perlu kegiatan luar negeri yang berlebihan,” imbuh Uchok.

Atas persoalan tersebut, pihaknya mendorong manajemen baru TelkomGroup melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengaudit anggaran perjalanan dinas luar negeri.

Menurut CBA, audit diperlukan untuk memastikan transparansi sekaligus mengetahui urgensi dari setiap kegiatan perjalanan kedinasan. Pengawasan tersebut juga dinilai penting agar penggunaan anggaran perusahaan dapat dipertanggungjawabkan.

Dorongan evaluasi tersebut datang bersamaan dengan momentum pergantian pucuk pimpinan Telkom. CBA menilai Nanang Hendarno memiliki kesempatan untuk memperkuat tata kelola perusahaan sembari mempertahankan kinerja positif yang sudah berjalan.

Kinerja saham TelkomGroup yang mulai mengalami pemulihan juga menjadi salah satu perhatian. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi momentum bagi manajemen baru untuk memperkuat kepercayaan investor.

“Audit perjalanan dinas luar negeri penting dilakukan agar sejalan dengan momentum pengangkatan Dirut PT Telkom yang baru, Nanang Hendarno, di mana saat ini harga saham TelkomGroup mulai pulih, merangkak naik, dan kembali dilirik oleh investor,” tutup Uchok.

 

Megapolitandotco
Editor