Megapolitan.co – Pembangunan GOR Terpadu Kota Bekasi berjalan senyap namun menyimpan angka fantastis. Di balik progres fisik yang terus berlanjut sejak 2024 hingga rencana 2026, proyek ini ternyata dibangun tanpa satu keputusan besar yang seharusnya menjadi fondasi utama, yakni penetapan sebagai kontrak tahun jamak (multiyears).

Nasional Corruption Watch (NCW) DPD Bekasi Raya mengungkap, proyek yang secara substansi merupakan satu bangunan utuh justru “dipecah” dalam skema kontrak tahunan.

Padahal, sejak tahap perencanaan awal, pembangunan GOR Terpadu telah dirancang lintas tahun dengan nilai anggaran yang terus membengkak hingga ratusan miliar rupiah.

Temuan NCW ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa proyek sebesar dan sepenting ini tidak sejak awal dibuka secara terang sebagai satu paket kebijakan lintas tahun?

Secara fisik dan fungsi, GOR Terpadu Kota Bekasi adalah satu kesatuan bangunan dan kawasan. Namun di atas kertas administrasi, proyek ini “berubah wajah” setiap tahun anggaran.

Data APBD, Renja OPD, serta LPSE Kota Bekasi menunjukkan bahwa proyek tersebut dilelang dan dikontrakkan secara terpisah setiap tahun.

Bahkan, pemenang tender berbeda dari satu tahun ke tahun berikutnya, menandakan tidak adanya ikatan kontrak multiyears yang lazim digunakan untuk proyek terintegrasi berskala besar.

NCW menilai, pola ini bukan sekadar teknis pengadaan, melainkan persoalan serius tata kelola anggaran. Pada Tahun Anggaran 2024, pembangunan GOR Terpadu dimulai dengan nilai kontrak Rp48.232.102.000,00 melalui Disperkimtan Kota Bekasi, dimenangkan oleh PT Citra Karya Agung.

Setahun berselang, pekerjaan lanjutan kembali dilelang sebagai paket baru dengan nilai negosiasi Rp64.010.801.000,00 dan dimenangkan oleh PT Bona Jati Mutiara.

Rencana Tahun Anggaran 2026 pun masih memuat sejumlah pekerjaan lanjutan. Dalam Renja Final Disperkimtan Kota Bekasi, tercatat kegiatan pembangunan gedung olahraga bertingkat, penataan kawasan, hingga penyediaan sarana cabang olahraga, dengan total indikatif anggaran sekitar Rp42,2 miliar.

megapolitanco
Editor