Megapolitan.co – Isu keterkaitan proyek panas bumi Telaga Ranu di Maluku Utara dengan agenda global kembali menguat di media sosial menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat pada 17 Februari 2026.

Namun kalangan parlemen menilai polemik tersebut perlu dilihat secara jernih, terutama dari sisi kepentingan nasional dan mekanisme kebijakan energi.

Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Dave Laksono, menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam forum internasional seperti Board of Peace justru penting untuk menjaga posisi diplomatik Indonesia.

“Kalau kita keluar, justru kita tidak tahu perkembangan dan pergerakan di dalamnya. Dengan tetap berada di forum itu, Indonesia bisa menyuarakan sikap secara langsung,” ujarnya.

Menurut Dave, kehadiran Indonesia dalam berbagai forum global harus dipandang sebagai instrumen diplomasi strategis, bukan sebagai indikasi adanya intervensi kepentingan asing terhadap proyek nasional.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan proyek Wilayah Kerja Panas Bumi Telaga Ranu telah melalui proses lelang resmi sejak 2024 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026 tertanggal 8 Januari 2026, proyek tersebut dimenangkan oleh PT Ormat Geothermal Indonesia, setelah bersaing dengan sejumlah perusahaan energi, termasuk PT Medco Power Indonesia.

Potensi energi Telaga Ranu diperkirakan mencapai sekitar 40 megawatt dan masuk dalam daftar proyek prioritas energi baru terbarukan nasional.

Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi, bukan agenda diplomatik tertentu.

Di tengah polemik yang berkembang, dukungan terhadap lawatan Presiden juga datang dari kalangan mahasiswa Indonesia di AS.

megapolitanco
Editor