Alumni PMII Jakarta Pusat 2002, Deny Iskan, menilai dinamika menjelang Musda Golkar Kota Bekasi tidak bisa hanya dilihat sebagai agenda memilih ketua partai.

“Musda ini jangan hanya dilihat sebagai agenda memilih ketua partai. Ada dinamika politik yang lebih besar, karena siapa yang memimpin partai tentu akan memiliki pengaruh terhadap peta politik Kota Bekasi ke depan,” kata Deny dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Dalam situasi seperti itu, muncul kekhawatiran bahwa kandidat yang memiliki kekuatan politik justru harus dihadapi dalam pertarungan.

Ade Puspitasari disebut menjadi salah satu nama yang berada dalam pusaran dinamika tersebut. Sosoknya dinilai masih sangat kuat untuk mengantongi kepercayaan warga Kota Bekasi.

Bahkan sampai berkembang bahwa Ade harus dikalahkan. Siapa pun lawannya, Ade harus kalah. Setidaknya, begitu kekhawatiran yang berkembang di tengah pertarungan politik menjelang Musda.

Dalam politik, kekalahan seorang kandidat tidak selalu terjadi karena kandidat tersebut tidak memiliki kekuatan.

Ada kemungkinan kandidat yang kuat justru berhadapan dengan kekuatan politik yang lebih besar.

“Kekuasaan itu dinamis. Ketika ada kekuatan politik yang berpotensi semakin besar, tentu akan muncul berbagai kepentingan. Dalam situasi seperti ini, semua pihak pasti akan berusaha menjaga dan memperkuat posisi politiknya,” ujarnya.

Dalam pertarungan politik, berbagai kepentingan dapat ikut bekerja untuk memperkuat posisi kandidat tertentu.

“Kadang seorang kandidat tidak kalah karena dia tidak kuat. Bisa saja karena lawannya diperkuat oleh berbagai kepentingan. Politik memang selalu memiliki banyak kemungkinan,” kata Deny.

megapolitanco
Editor