Kampanye “Indonesia Gelap” yang sempat menuai polemik disebut menjadi contoh bagaimana isu sosial dibingkai secara masif, lalu diperluas ke konteks bencana.
Permintaan maaf Ary Gadun kepada Kejaksaan Agung pun tidak serta-merta meredam kecurigaan adanya pola komunikasi terkoordinasi.
Tujuan akhirnya dinilai untuk menyibukkan negara dan aparat penegak hukum, agar fokus terhadap kasus-kasus lama, termasuk karhutla dan perusakan hutan, kembali kabur.
Sorotan publik juga mengarah pada Virdian Aurelio. Di satu sisi, ia dikenal vokal menyuarakan kritik terhadap industri sawit dan deforestasi.
Di sisi lain, keterlibatannya dalam PT Digdaya Agro Indonesia memunculkan pertanyaan.
Perusahaan tersebut bergerak di bidang survei dan analisis lahan berbasis teknologi drone, teknologi yang lazim digunakan dalam sektor perkebunan untuk pemetaan dan pengelolaan lahan. Relasi bisnis dengan entitas perkebunan negara di wilayah Sumatera menambah kompleksitas posisi tersebut.
Situasi ini dinilai mencerminkan garis abu-abu antara aktivisme lingkungan dan kepentingan bisnis, yang kerap menjadi celah bagi perang narasi di ruang publik.
Langkah pemerintah yang mulai menindak kasus-kasus korporasi bermasalah, termasuk perkara korupsi di PTPN I dengan pengembalian dana ratusan miliar rupiah, dipandang sebagai ujian konsistensi penegakan hukum.
Publik menilai, penanganan kasus semacam ini akan menjadi indikator apakah negara benar-benar serius memutus mata rantai kejahatan lingkungan dan tata kelola lahan, atau justru kembali terjebak dalam pusaran opini dan propaganda.
Tragedi alam semestinya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan lingkungan dan pengelolaan hutan.
Ketika bencana justru dipakai sebagai alat komunikasi untuk menutup jejak kerusakan lama, risiko pengulangan skandal ekologis kian nyata.
Masyarakat diimbau tetap kritis, menolak penyederhanaan narasi bencana, dan mendorong pengungkapan akar persoalan.
Tanpa itu, Sumatera dan wilayah lain berpotensi terus menjadi panggung bagi pola lama yang berulang, sementara korban sesungguhnya adalah lingkungan dan warga.






Tinggalkan Balasan