Megapolitan.co – Jumlah titik panas yang terindikasi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meningkat menjadi 118 titik, pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Angka tersebut bertambah 39 titik dibandingkan dengan data sehari sebelumnya.
Papua Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 84 titik. Kondisi ini terjadi di tengah laporan kebakaran di Kabupaten Merauke yang menyebabkan sejumlah rumah warga terbakar dan masyarakat adat terpapar kepungan asap.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, sebaran titik panas lainnya meliputi Kalimantan Timur sebanyak 24 titik, Sulawesi Selatan lima titik, Sulawesi Tengah empat titik, dan Sulawesi Barat satu titik.
Kementerian Kehutanan menjelaskan, titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui pemantauan satelit.
Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas wilayah yang telah terbakar.
“Karena itu, groundcheck, patroli, dan pengecekan langsung tetap dilakukan,” tulis Kementerian Kehutanan dalam siaran pers Nomor SP.652/HKLN/10/2026.
Kebakaran di Merauke Bakar Rumah Warga
Ancaman karhutla juga terjadi di Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Akun Threads @waansyahda pada Rabu, 28 Oktober 2026, mengunggah laporan mengenai kebakaran yang meluas di Kampung Yanggandur dan Kampung Turiram.
Dalam laporan tersebut disebutkan sejumlah rumah warga ikut terbakar. Masyarakat adat setempat juga dilaporkan menghadapi kepungan asap dengan perlindungan yang terbatas.
“Sejumlah rumah warga dilaporkan terbakar, sementara warga adat menghadapi kepungan asap dengan perlindungan seadanya,” tulis akun tersebut.
Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Selain mengancam permukiman, karhutla juga berpotensi merusak lingkungan yang menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat adat.
Luas Karhutla di Papua Capai 2.393 Hektare
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan luas lahan yang terbakar di wilayah Papua mencapai sekitar 2.393 hektare. Dari total tersebut, sekitar 161,5 hektare berada di wilayah Papua Selatan.
Proses pemadaman di sejumlah lokasi masih menghadapi kendala medan dan akses menuju titik kebakaran yang sulit dijangkau. Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan bagi petugas dalam menjangkau area terdampak.
BNPB juga menyebut hujan yang mulai turun di beberapa wilayah diharapkan dapat membantu mengurangi penyebaran api sekaligus meredam asap akibat kebakaran.
Di sisi lain, Kementerian Kehutanan menyatakan status tanggap darurat karhutla di Papua Selatan masih berlaku hingga 28 November 2026.
Pemerintah bersama tim gabungan terus melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran di sejumlah wilayah terdampak untuk mengendalikan api serta mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap masyarakat.






Tinggalkan Balasan