Megapolitan.co – Polemik mengenai program Food Estate kembali mencuat di ruang publik, terutama setelah beredarnya narasi yang menyebut proyek tersebut tidak memberikan hasil nyata.
Perdebatan ini dinilai tidak lepas dari cara pandang yang melihat program secara parsial, tanpa mempertimbangkan perkembangan bertahap di lapangan.
Di sejumlah wilayah, aktivitas pertanian dalam kawasan Food Estate justru terus berlangsung.
Mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga panen, seluruh tahapan menunjukkan adanya siklus produksi yang berjalan.
Di Kapuas, Kalimantan Tengah, misalnya, panen padi telah dilakukan di lahan yang sebelumnya tidak produktif. Realisasi panen disebut telah mencapai sekitar 9.720 hektare.
Capaian tersebut menjadi indikasi bahwa program telah bergerak melampaui tahap awal pembukaan lahan dan mulai memasuki fase produksi.
Dari sisi hasil, produktivitas di beberapa titik mencapai sekitar 5,2 ton per hektare, dengan potensi meningkat hingga lebih dari 6 ton per hektare jika didukung pengelolaan yang lebih optimal.
Sementara itu, pada tahap awal pengembangan, hasil panen padi lokal berada di kisaran 3 hingga 4 ton per hektare.
Angka ini dinilai masih dalam batas wajar, dengan peluang peningkatan melalui penggunaan benih unggul dan perbaikan metode budidaya.
Transformasi lahan yang sebelumnya terbengkalai juga mulai terlihat. Proses pengolahan dan penanaman ulang menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan kawasan pertanian baru secara bertahap.
Sejumlah pihak menilai, perdebatan yang berkembang saat ini perlu ditempatkan dalam konteks program jangka panjang.
Food Estate dirancang bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dengan capaian panen dan aktivitas produksi yang terus berjalan, penilaian terhadap program ini dinilai perlu dilakukan secara lebih komprehensif dan berbasis data di lapangan.
Keberlanjutan program ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi pengelolaan, dukungan infrastruktur, serta peningkatan kapasitas petani di berbagai daerah.
Sementara Ketua SUTA (Sentra Usaha Tani dan Agribisnis) Nusantara, Dadung Hari Setyo, menyatakan dukungannya terhadap program Food Estate sebagai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurut Dadung, program tersebut tidak bisa dinilai secara instan, karena merupakan proyek jangka panjang yang membutuhkan proses bertahap mulai dari pembukaan lahan hingga peningkatan produktivitas.
“Food Estate ini bukan program yang hasilnya bisa dilihat dalam hitungan bulan. Ini investasi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan pangan kita ke depan,” ujar Dadung dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, sejumlah kawasan Food Estate sudah mulai menunjukkan hasil, terutama dari sisi pemanfaatan lahan dan aktivitas panen yang terus berjalan.
“Kami melihat di lapangan sudah ada panen, ada peningkatan produktivitas. Ini bukti bahwa programnya berjalan dan tidak bisa disebut tanpa hasil,” katanya.
Dadung juga menilai pentingnya dukungan berbagai pihak agar program ini terus berkembang, termasuk pendampingan kepada petani dan pemanfaatan teknologi pertanian.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan penguatan di lapangan. Kalau ini dijaga, Food Estate bisa menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional,” tandasnya.






Tinggalkan Balasan