Megapolitan.co – Sebanyak 45 pasien anak Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Jawa Timur, dievakuasi setelah kebakaran melanda area layanan gizi rumah sakit tersebut pada Rabu, 9 September 2026 sore.
Kebakaran terjadi di dua ruangan, yakni dapur ruang gizi dan laundry room. Insiden itu sempat membuat asap pekat membumbung dari dalam area rumah sakit dan terekam dalam video yang kemudian beredar di media sosial.
Dalam unggahan akun Instagram @info_malang, terlihat kepulan asap tebal keluar dari kawasan RSSA Malang.
“Gedung gizi di RSSA Malang mengalami kebakaran hebat, pasien-pasien dievakuasi ke luar area rumah sakit,” tulis keterangan unggahan.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSSA, dr Syaifullah Asmiragani, mengatakan evakuasi terhadap pasien anak dilakukan setelah rumah sakit mengaktifkan status code red.
“Terkait pasien anak ketika sudah ada aktivitas code red untuk menghindari terjadinya keracunan karbon monoksida akibat asap yang berlebihan,” kata Syaifullah dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
“Maka pasien anak kami evakuasi ke titik kumpul yang dekat dengan gedung ini,” sambungnya.
Pasien Dipindahkan karena Ruang Masih Berbau Asap
Setelah seluruh pasien anak dievakuasi, tim medis melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada kondisi darurat akibat kejadian tersebut.
“Setelah itu kami melakukan skrining dan evaluasi terhadap pasien yang dipindahkan untuk memastikan tidak ada kegawatan,” terangnya.
“Dan sudah dipastikan tidak ada sehingga saat itu kami menunggu sampai ada lampu hijau dari tim yang bertugas mengevaluasi fasilitas,” imbuh Syaifullah.
Namun, ruang perawatan anak masih tercium bau asap. Kondisi tersebut membuat pihak rumah sakit memutuskan memindahkan pasien ke ruang perawatan lain untuk sementara.
Syaifullah memastikan kondisi seluruh pasien tetap stabil setelah dipindahkan.
“Alhamdulillah, setelah kami pindahkan ke ruang tersebut dilakukan skrining ulang dan sampai sekarang tidak ada kegawatan pada pasien yang mengkhawatirkan,” tandasnya.
Kebakaran Berasal dari Dapur Gizi dan Laundry
Berdasarkan laporan yang diterima Mako Damkar, kebakaran di RSSA Malang mulai terjadi sekitar pukul 14.57 WIB.
Petugas pemadam kebakaran kemudian dikerahkan ke lokasi dengan lima unit armada. Armada tersebut terdiri atas empat unit water supply dan satu unit rescue kajama, dengan total 20 personel.
Ketika petugas tiba, api telah menyebar ke sejumlah titik. Kondisi plafon di ruangan yang terbakar juga sudah rusak dan roboh akibat dilalap api.
Berdasarkan informasi internal RSSA, sumber kebakaran berada di dua ruangan, yakni dapur ruang gizi dan laundry room.
Sejumlah material ikut terbakar. Di area ruang gizi, api membakar peralatan dapur dan bahan makanan. Sementara di laundry room, material yang terbakar berupa selimut dan seprai yang mudah terbakar sehingga turut memperbesar kobaran api.
Petugas akhirnya berhasil memadamkan api sepenuhnya sekitar pukul 16.30 WIB.
Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut. RSSA memastikan tidak terdapat korban luka maupun korban jiwa akibat kebakaran.
Psikiater dan Psikolog Dampingi Pasien Anak
Direktur Utama RSSA Malang, dr Mochamad Bachtiar Budianto, mengatakan proses evakuasi pasien anak dilakukan sesuai prosedur yang telah disiapkan rumah sakit.
Penanganan pascakebakaran tidak hanya dilakukan dari sisi medis. Rumah sakit juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis pasien anak yang terdampak kejadian tersebut.
Tim psikiater dan psikolog telah diterjunkan untuk melakukan pendampingan terhadap pasien.
“Memang benar anak ada perhatian khusus karena berbeda, demikian secara psikologis,” ungkap Bachtiar.
“Kami sudah mengantisipasi kami skrining ulang termasuk psikis tadi sudah langsung turun ke lapangan ada tim dari psikiater dan psikolog. Nanti akan mendampingi,” tambahnya.
Pendampingan psikologis, kata Bachtiar, akan kembali dilakukan pada hari berikutnya. Langkah tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pasien anak yang masih mengalami ketakutan setelah kejadian kebakaran.
“Besok masih akan turun ke ruangan, pasti ada yang merasa takut nanti akan dilakukan advokasi dan edukasi,” tandasnya.
Tinggalkan Balasan