Megapolitan.co – Direktur Beringin Institut, Novarel S Zuhry, menyoroti dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD Golkar Kota Bekasi.

Ia mengingatkan agar perhelatan lima tahunan tersebut tidak kehilangan substansi karena perhatian kader terlalu tersita pada persaingan memperebutkan posisi Ketua DPD.

Menurut Novarel, munculnya dinamika dalam sebuah Musda merupakan hal yang wajar. Namun, proses tersebut tetap harus ditempatkan dalam kerangka kepentingan organisasi dan tidak sampai mengorbankan soliditas internal Golkar Kota Bekasi.

“Kader dan pengurus Golkar diharapkan jangan terjebak pada agenda memilih sosok Ketua DPD Golkar Kota Bekasi lima tahun mendatang pada Musda kali ini,” kata Novarel dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).

Ia menilai Musda memiliki arti lebih besar dibandingkan sekadar menentukan siapa yang akan memimpin DPD Golkar Kota Bekasi.

Forum tersebut menjadi kesempatan bagi seluruh elemen partai untuk melihat kembali kondisi internal sekaligus menyiapkan langkah menghadapi agenda politik yang akan datang.

Karena itu, Novarel mengingatkan agar persaingan dalam Musda tidak berkembang menjadi konflik antarkader. Menurutnya, perbedaan dukungan terhadap calon ketua semestinya tidak membuat hubungan internal partai menjadi renggang, terlebih hingga menggunakan cara-cara yang dapat merusak proses demokrasi organisasi.

“Apalagi sampai harus mengorbankan soliditas internal dalam tubuh partai. Dan bahkan menggunakan cara-cara licik untuk merebutkan tampuk kekuasaan partai. Seperti menebar fitnah, kampanye hitam hingga politik uang,” ujarnya.

Novarel menegaskan, cara-cara tersebut tidak sejalan dengan semangat Partai Golkar. Karena itu, seluruh pihak yang terlibat dalam Musda diminta mengedepankan kepentingan organisasi dibandingkan kepentingan kelompok maupun pribadi.

Kekuatan Golkar Tak Hanya Ditentukan Ketua

Meski pemilihan Ketua DPD menjadi salah satu agenda Musda, Novarel mengingatkan agar persoalan tersebut tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan forum.

Menurutnya, posisi ketua memang penting dalam organisasi. Namun, Golkar selama ini memiliki sistem kepartaian yang membuat kekuatannya tidak sepenuhnya bergantung pada sosok tertentu.

“Memilih ketua itu penting, tetapi bukan segala-galanya. Golkar bukan partai yang hanya bergantung kepada figur. Kekuatan Golkar justru ada pada sistem partai yang sudah kuat dan solid,” kata Novarel.

Ia kemudian melihat perjalanan Golkar Kota Bekasi dalam beberapa periode pemilu. Di bawah kepemimpinan Ade Puspitasari selama lima tahun terakhir, Golkar tetap mampu mempertahankan delapan kursi legislatif pada Pileg 2024.

Jumlah tersebut sama dengan raihan Golkar pada Pileg 2014 dan 2019 ketika partai dipimpin Rahmat Effendi yang ketika itu berstatus sebagai Wali Kota Bekasi.

Capaian delapan kursi tersebut juga diraih di tengah perubahan jumlah daerah pemilihan (Dapil). Pada Pileg 2019, Kota Bekasi memiliki enam dapil, sedangkan pada Pileg 2024 jumlahnya berkurang menjadi lima dapil.

Dari sisi suara, Golkar bahkan memperoleh angka lebih tinggi dibandingkan PDI Perjuangan. Golkar mengantongi 205.229 suara, sementara PDI Perjuangan memperoleh 201.831 suara.

“Ini menunjukkan bahwa tanpa harus bergantung kepada sosok tertentu, Golkar tetap bisa mempertahankan kekuatannya. Sistem partai dan soliditas organisasi justru menjadi modal utama,” ujarnya.

Kekalahan Pilkada Bukan Ukuran Tunggal

Novarel juga menilai hasil Pilkada Kota Bekasi 2024 tidak bisa dijadikan ukuran tunggal untuk melihat kekuatan sebuah partai.

Menurutnya, Pileg dan Pilkada memiliki karakter yang berbeda. Jika Pileg sangat berkaitan dengan kekuatan mesin partai, Pilkada juga dipengaruhi oleh figur yang maju sebagai calon.

Ia kemudian mencontohkan PKS Kota Bekasi. Meskipun menjadi pemenang Pileg 2024, PKS tidak berhasil memenangkan Pilkada Kota Bekasi pada tahun yang sama.

Atas dasar itu, Novarel menilai pencapaian Golkar dalam beberapa pemilu sebelumnya menunjukkan pentingnya menjaga sistem dan struktur organisasi. Musda pun dinilai perlu diarahkan untuk memperkuat fondasi tersebut.

Bersih-bersih Internal Harus Jadi Agenda

Selain konsolidasi, Novarel mendorong agar Musda menjadi momentum evaluasi terhadap kondisi internal Golkar Kota Bekasi. Ia menilai pembenahan organisasi tidak kalah penting dibandingkan menentukan figur yang akan memimpin partai.

“Yang paling utama adalah bagaimana Golkar melakukan bersih-bersih internal. Jangan sampai ada orang-orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi, mencari aman, lalu mengorbankan kepentingan partai,” imbuh Novarel.

Menurutnya, Golkar perlu mengevaluasi keberadaan pihak-pihak yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan organisasi.

Novarel juga menyoroti pihak yang mengklaim diri sebagai senior atau sesepuh partai, tetapi menurutnya justru berpotensi menciptakan intrik dan konflik di internal Golkar.

“Kalau ada orang yang mengaku sebagai senior atau sesepuh, tetapi justru menjadi sumber konflik dan menggunakan partai untuk kepentingan pribadi, tentu harus dievaluasi. Jangan sampai keberadaan mereka justru menjadi parasit yang merusak tubuh partai,” ujarnya.

Novarel mengatakan persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius karena pihak-pihak yang dinilainya demikian disebut tidak hanya berada di luar struktur. Sebagian di antaranya bahkan berstatus anggota legislatif dan pengurus DPD Golkar Kota Bekasi.

Dinamika tersebut, menurutnya, juga terlihat dalam Pilkada Kota Bekasi 2024. Ia menyebut terdapat kader Golkar yang secara terbuka mendukung calon yang diusung partai politik lain.

“Kalau ada kader atau pengurus yang pada Pilkada lalu justru mendukung calon dari partai lain demi kepentingan tertentu, itu harus menjadi bahan evaluasi. Jangan sampai kepentingan pribadi lebih besar daripada kepentingan partai,” katanya.

Karena itu, Novarel berharap Musda Golkar Kota Bekasi tidak berhenti pada proses memilih ketua. Forum tersebut harus mampu menghasilkan konsolidasi organisasi, pembenahan internal dan arah kebijakan yang jelas untuk menghadapi Pileg 2029 serta Pilkada Kota Bekasi.

“Musda ini harus menjadi momentum untuk memperkuat Golkar, bukan memecah Golkar. Bersih atau tidaknya internal partai akan sangat menentukan langkah Golkar selama lima tahun ke depan,” pungkas Novarel.

 

Megapolitandotco
Editor