Megapolitan.co – Arus mudik Lebaran 2026 mulai mereda, namun lonjakan arus balik kini menimbulkan masalah baru.
Kemacetan yang biasanya terjadi di jalan raya, menurut para nahkoda, kini “dipindahkan” ke perairan sekitar pelabuhan, menimbulkan antrean panjang kapal dan ketidaknyamanan bagi penumpang.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh penyelenggara angkutan Lebaran, mulai dari pengaturan lalu lintas hingga pembagian arus kendaraan ke beberapa titik penyebrangan.
Namun kenyataannya, solusi tersebut belum menyentuh akar masalah. Kapal-kapal masih harus menunggu giliran sandar, sementara kendaraan yang menumpuk berpindah dari darat ke laut.
“Kami sering menerima keluhan penumpang, bahkan emosi mereka dilampiaskan ke kru. Padahal kapal harus menunggu giliran sandar cukup lama,” ujar Kaptan Kapal Royce 1, Amir Ansori, Selasa (24/3/2026).
Menurut Amir, penahanan kapal di laut dilakukan untuk mencegah kepadatan kendaraan di pelabuhan maupun jalan umum.
Langkah ini memang efektif mengurangi kemacetan darat yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Namun di sisi lain, beban justru berpindah ke laut, berdampak pada kenyamanan dan keselamatan pelayaran.
Tanpa adanya solusi menyeluruh, pola “memindahkan kemacetan” ini diprediksi akan terus terjadi setiap tahun. Evaluasi menyeluruh dan terobosan baru dinilai mendesak agar arus mudik dan balik tidak lagi menjadi beban satu pihak saja.
Sementara pakar transportasi Rizal Fadli menekankan pentingnya koordinasi yang lebih kuat antar pemangku kepentingan agar distribusi arus penyebrangan lebih seimbang, baik di darat maupun di laut.
“Koordinasi lintas instansi dan perencanaan distribusi kendaraan harus diperkuat, supaya kemacetan tidak hanya bergeser dari jalan ke laut,” ucap Rizal.






Tinggalkan Balasan