Selain mengamankan sejumlah orang, polisi juga menyita berbagai barang yang menurut aparat diduga berkaitan dengan potensi tindakan kekerasan. Barang tersebut antara lain 39 senjata tajam, dua airsoft gun, satu tabung gas airsoft gun, 25 gram gotri, tiga stik golf, tujuh jeriken berisi bensin serta 201 botol kaca lengkap dengan sumbu.
“Barang bukti yang ada di hadapan kita bersama, ini ada senjata tajam, airsoft gun, obat-obatan, perangkat komunikasi, bahan ataupun benda yang dipersiapkan membuat bom molotov, termasuk tujuh jeriken berisi bensin dan 201 botol kaca berikut sumbu,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto, dikutip ANTARA.
Sementara Tribratanews Polri juga menyebut penyidik masih mendalami pihak yang diduga memiliki peran dalam proses perekrutan, pembiayaan, penyediaan sarana, pengorganisasian massa maupun pemberian arahan.
“Penyidik masih mendalami siapa saja yang memiliki peran dalam proses perekrutan, pembiayaan, penyediaan sarana, pengorganisasian massa, maupun pihak yang memberikan perintah atau arahan,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin.
Saat aksi berlangsung, sejumlah mahasiswa disebut mulai meninggalkan kawasan DPR secara tertib sekitar pukul 18.00 WIB. Meski demikian, sebagian massa lainnya masih bertahan di sekitar lokasi.
Situasi kemudian berkembang menjadi lebih tegang. Berdasarkan laporan di lapangan, sejak sore terjadi kerusakan pagar Gedung DPR dan pelemparan botol bekas air mineral ke dalam kompleks parlemen. Sejumlah kardus bekas air mineral juga dibakar di sekitar lokasi.
Setelah situasi meningkat, polisi kemudian melakukan pembubaran. Aparat mengerahkan kendaraan taktis water cannon dan gas air mata untuk memukul mundur massa. Bentrokan selanjutnya terjadi di sekitar kompleks DPR dan berlanjut hingga kawasan Pejompongan.
Pergerakan massa juga berpengaruh terhadap sejumlah ruas jalan. Okezone melaporkan massa bergerak hingga kawasan Flyover Slipi dan Pejompongan setelah pembubaran di depan gerbang utama kompleks parlemen.
Kerusakan kemudian terlihat pada sejumlah fasilitas publik. Di kawasan Pejompongan, misalnya, sejumlah CCTV dan fasilitas seperti rambu lalu lintas dilaporkan mengalami kerusakan.
Sementara di kawasan Slipi, pos polisi dilaporkan mengalami kerusakan dan pembakaran. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak kericuhan tidak berhenti di sekitar Gedung DPR, tetapi turut menjalar ke ruang publik di kawasan sekitarnya.
Gas Air Mata Digunakan Saat Situasi Memanas
Penggunaan gas air mata menjadi salah satu bagian yang paling banyak mendapat perhatian dari rekaman video yang beredar. Namun, kronologi pemberitaan menunjukkan penggunaan gas air mata berlangsung setelah sebagian massa masih bertahan dan kondisi di depan kompleks parlemen semakin memanas.
Tinggalkan Balasan